Pameran Daring

Jejak Gerilya Sang Jenderal

Pengantar

Pandemi Virus Corona yang melanda berbagai wilayah di Indonesia membuat beberapa museum di Yogyakarta tutup untuk sementara waktu, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta salah satunya. Namun demikian, masyarakat dapat mengakses Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta melalui sajian layanan digital dari rumah masing-masing. Kali ini Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta menyajikan pameran daring dengan tema Jejak Gerilya Sang Jenderal. Dengan pameran ini, diharapkan masyarakat, terutama pelajar, dapat belajar kepahlawanan Jenderal Sudirman sembari mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
"Kau bukan tentara sewaan, tetapi prajurit yang berideologi sanggup berjuang menempuh maut untuk kelahiran Tanah Airmu."

Ungkapan tersebut menunjukkan jiwa dan semangat Sudirman untuk menjaga Ibu Pertiwi. Pada saat Belanda mengusik kemerdekaan Indonesia  dengan aksinya yang dilancarkan pada tanggal 19 Desember 1948, Sudirman mengatakan bahwa “Saya memutuskan untuk meneruskan gerilya dengan sekuat tenaga seluruh prajurit”. Itulah Sudirman. Sakit bukan menjadi halangan untuk mempertahankan kemerdekaan tanah airnya. Maka ditinggalkanlah Yogyakarta  menuju luar kota untuk memimpin gerilya. Bersama pasukannya Sudirman menyusuri jalan yang terjal, masuk keluar hutan, dengan bekal seadanya.

Selama bergerilya peran masyarakat desa sangat berarti. Karena peran masyarakat tersebut Jenderal Sudirman dan pasukannya mendapat tempat untuk tinggal dan bermarkas serta mendapat bantuan makan dan minum untuk menyambung hidup demi perjuangan.

Jejak-jejak gerilya Sudirman dapat kita runut kembali melalui benda-benda koleksi yang tersimpan di museum.

01

Agresi Militer Belanda II

Pagi hari, 19 Desember 1948 Belanda menyerang Lapangan Udara Maguwo Yogyakarta. Serangan mendadak itu menyebabkan ibukota RI dapat diduduki Belanda. Melihat kondisi ini, Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Sudirman menyampaikan Perintah Kilat No.1/PB/D/48 kepada semua Angkatan Perang untuk menjalankan Perintah Siasat No.1/Stop/5/48 melalui RRI.
02

Gerilya-Jalan Panjang Perjuangan

Serangan Belanda tanggal 19 Desember 1948 sudah diprediksikan kemungkinan akan terjadi. Untuk antisipasi, TNI telah menyiapkan Perintah Siasat No.1/Stop/48/5/48 yang ditandatangani Pangsar Jenderal Sudirman. Isi Perintah Siasat itu adalah TNI akan berjuang secara gerilya dengan konsep terugval basis di gunung dan hutan belantara sebagai pusat pertahanan. Mulai tanggal 19 Desember 1948, Pangsar Jenderal Sudirman memimpin gerilya menempuh perjalanan panjang bersama pasukannya.

Siasat Perang Gerilya

03

Menuju Kemenangan

Dalam melaksanakan perang gerilya, berpuluh-puluh desa telah dilewati, Yogyakarta-Bantul-Gunungkidul-Wonogiri-Pacitan-Ponorogo-Trenggalek-Tulungagung-Kediri-Nganjuk-Prambanan. Sudirman berkoordinasi dengan pasukan yang bermarkas di daerah lain untuk mengatur strategi. Rumah penduduk dijadikan markas pasukan gerilyawan. TNI dan rakyat bersatu saling bahu-membahu untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan.

04

Kembalinya Ibukota RI

Proklamasi kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi, Belanda datang lagi dengan maksud berkuasa di bumi nusantara. Setelah melalui perjuangan panjang, bangsa Indonesia dapat bernafas lega. Akhirnya pada tanggal 29 Juni 1949, Belanda menarik seluruh kekuatan militernya dari Yogyakarta, dan secara bertahap Yogyakarta dapat dikuasai Republik Kembali. Mulai saat itu rakyat Indonesia dapat merasakan merdeka yang sebenarnya.

Hubungi Kami

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Jalan Margo Mulyo No. 6 Yogyakarta 55121
Telepon: 0274 586934
Fax: 0274 510996
Email: vredeburg@kemdikbud.go.id / museumbenteng.vredeburgjogja@gmail.com

Statistik Pengunjung

Online

1

Pengunjung Hari ini

2

Pengunjung Bulan ini

138

Total Pengunjung

944